Selasa, 09 Desember 2014

PERSEPSI DAN KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI



PERSEPSI DAN  KOMUNIKASI  DALAM   ORGANISASI
Oleh : Supiansyah

A.      Pendahuluan
Persepsi dan komunikasi ini amat erat dan penting sekali diketahui guna memahami ilmu prilaku. Komunikasi terjadi jika seseorang ingin menyampaikan informasi kepada orang lain. dan komunikasi tersebut dapat berjalan baik dan tepat dan jika penyampaian informasi tadi menyampaikannya dengan patut, dan penerima informasi menerimanya tidak dalam bentuk distorsi.
Persepsi pada hakikatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang didalam memahami informasi tentang lingkungannya, lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan dan penciuman. Persepsi adalah suatu proses kognitif yang kompleks dan yang menghasilkan suatu gambar unik tentang kenyataan yang barangkali sangat berbeda dengan kenyataannya.
         Dalam berkomunikasi kita biasa memilih sebagian pesan yang terkandung dalam pernyataan lawan komunikasi kita untuk kita tanggapi dan mengabaikan pesan-pesan atau bagian-bagian pesan lainnya. Hampir semuan bentuk komunikasi sesungguhnya memang kompleks atau rumit, sehingga sadar atau tidak sadar, kita cendrung memilih apa atau mana yang kita persepsikan dan kita tanggapi. Persepsi/penafsiran kita, terhadap pesan-pesan yang kita terima dari orang lain selalu kita perlakukkan masih bersifat tentatif atau sementara, sampai mendapatkan konfirmasi atau dibenarkan oleh lawan bicara kita. 1
Persepsi ini merupakan proses kognitif yang kompleks yang dapat memberikan gamabaran yang unik tentang dunia yang sangat berbeda dengan realitasnya. Pengenalan adanya perbedaan antara dunia dalam persepsi dan dunia dalam kenyataan, penting artinya dalam konsep komunikasi interpersonal. Kita sering menyalahartikan hubungan antara persepsi dengan sensasi indra fisik kita yang biasanya meliputi penglihatan, pendengaran, perabaan, pembauan dan cita rasa (panca indra), kadang-kadang ditambah indra ke enam. Kelima indra kita selalu dibombardir dengan berbagai stimulan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam tubuh.
Contoh stimulan yang datang dari luar adalah gelombang cahaya, gelombang suara, tekanan energi mekanik, dan energi kimia dari beberapa objek yang bisa dibau dan dirasakan. Stimulasi yang datang dari dalam termasuk energi yang dihasilkan oleh otot, makanan yang melewati sistem pencernan, dan hormon-hormon yang mempengaruhi perilaku yang dikeluarkan oleh kelenjar-kelenjar hormon. Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa sensasi itu terutama berhubungan dengan perilaku yang sangat elementer, yang sebagian besar ditentukan oleh fungsi fisiologis. Dengan cara ini manusia menggunakan panca indranya untuk warna, penerangan cahaya, bentuk kekerasan, suara, panas, bau dan rasa makanan, obat-obatan, atau zat-zat tertentu. 2
B.                 Pengertian Persepsi  dan Komunikasi
1. Persepsi      
            Persepsi jauh lebih kompleks dan luas daripada sensasi. Proses persepsi melibatkan interaksi yang kompleks dari seleksi, dan interpretasi. Meskipun persepsi sebagian besar tergantung pada objek-objek pancaindra sebagai data kasar, proses kognitif dapat memfilter, memodifikasi, atau mengubah sama sekali data ini. Ilustrasi yang sederhana ini dapat disebutkan disini dengan memperlihatkan objek yang tidak bergerak pada satu sisi, umpamanya patung atau pohon. Dengan menggerakkan mata secara perlahan ke sisi lain dari objek tersebut bergerak. Tetapi, orang tersebut tetap berpersepsi bahwa objek itu tidak bergerak. 3
            Untuk memudahkan kita dalam memahami persepsi maupun sensasi akan kami paparkan beberapa contoh berikut. Anda melihat kawan anda sedang melihat-lihat etalase toko. Anda menyergapnya dari belakang, “bangsat loe, udah lupa sama aku ya!” orang itu membalik, anda terkejut. Ia bukan teman anda, tetapi orang yang tidak pernah anda kenal seumur hidup anda. Ini bukan kesalahan persepsi tapi ini adalah kekeliruan sensasi. Bila dosen mengucapkan “bagus”, tetapi anda mendengar “Agus”, anda keliru sensasi. Tetapi bila saya mengucapkan “anda cerdas sekali” lalu Anda menerima pujian saya dengan marah, karena anda kira saya mempermainkan Anda, Anda salah mempersepsi pesan saya.[4]
            Dalam pembahasan definisi persepsi ini terdapat beberapa pendapat para pakar komunikasi, yang dapat dijadikan dasar dalam memahami makna persepsi. Sebagaimana diungkapkan oleh Desiderato  bahwa persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.[5] Robbins , Persepsi didefinisikan sebagai proses dimana individu mengorganisasikan dan menginterpretasikan impresi sensorinya supaya dapat memberikan arti kepada lingkungan sekitarnya.[6]
            Kedua definisi diatas telah cukup memberikan pemahaman secara deskriptif terhadap makna persepsi, meskipun masih banyak definisi-definisi yang lain yang tidak dicantumkan dalam tulisan ini. Inti dari kedua  definisi di atas tidak jauh berbeda, hanya saja definisi pertama lebih menekankan pada pengalaman suatu objek, sedangkan kedua lebih menekankan persepsi sebagai proses. Namun dari kedua definisi, dapat  disimpulkan bahwa inti dari persepsi adalah penafsiran (interpretasi).
            Hal ini tampak pada definisi John R. Wenburg dan William W. Wilmot: “persepsi didefenisikan sebagai cara organisme memberi makna”.[7] Rudolph F. Verderber: “persepsi adalah proses menafsirakan informasi inderawi“atau J. Cohen: “persepsi didefinisikan interpretasi bermakna atas sensasi sebagai representatif objek eksternal; persepsi adalah pengetahuan yang tampak mengenai apa yang diluar sana”. 8 Jadi persepsi merupakan proses pengorganisasian dan penginterpretasian terhadap stimulus organisme atau individu sehingga didapat sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang terintegrasi dalam diri individu.
Persepsi pada hakikatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang di dalam memahami informasi tentang lingkungannya, baik lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan, dan penciuman.
Persepsi juga dapat diartikan sebagai suatu proses dimana individu-individu mengorganisasikan dan menafsirkan kesan indera (sensasi) mereka agar memberi makna kepada lingkungan mereka. Proses ini meliputi sensasi, atensi, dan interpretasi. 
Menurut Luthans persepsi itu lebih kompleks dan lebih luas dibanding penginderaan. Proses persepsi meliputi suatu interaksi yang sulit dari kegiatan seleksi, penyusunan dan penafsiran.. Selanjutnya proses persepsi dapat menambah dan mengurangi kejadian. Sebagai contoh: bagian pembelian membeli peralatan yang diperkirakan menurutnya adalah peralatan yang terbaik, tetapi para insinyur mengatakan bahwa itu bukan yang terbaik.
Ada beberapa subproses dalam persepsi:
1.      Stimulus atau situasi yang hadir. Terjadinya persepsi jika seseorang dihadapkan dengan sesuatu stimulus atau situasi Situasi yang dihadapi itu mungkin bisa berupa stimulus penginderaan dekat dan langsung atau berupa bentuk lingkungan sosiokultur dan fisik yang menyeluruh.
2.      Registrasi, interpretasi dan umpan balik. Registrasi dalam hal ini seseorang mendengar atau melihat informasi terkirim kepadanya, didaftarnya semua informasi itu kemudian diproses interpretasi ini tergantung pada pendalaman, motivasi, dan kepribadian seseorang adalah berbeda. Kemudian akan terjadi umpan balik.
3.      Kebudayaan
Kebudayaan dan lingkungan masyarakat tertentu juga merupakan salah satu faktor yang kuat di dalam mempengaruhi sikap nilai dan cara seseorang memandang dan memahami keadaan di dunia ini. 
Persepsi sangat dipengaruhi oleh faktor dalam dan faktor luar.
Faktor-faktor dari luar yang mempengaruhi proses seleksi persepsi antara lain:
1.      Intensitas, semakin besar intensitas stimulus dari luar, semakin besar juga hal itu dapat dipahami.
2.      Ukuran, semakin besar ukuran suatu objek semakin mudah untuk diketahui.
3.      Berlawanan atau kontras, prinsip berlawanan dengan sekelilingnya ini akan menarik banyak perhatian.
4.      Pengulangan, stimulus dari luar yang diulang akan memberikan perhatian yang lebih besar dari pada yang sekali dilihat atau didengar.
5.      Gerakan, orang akan memberikan banyak perhatian kepada kepada benda yang bergerak. 
Faktor-faktor dari dalam yang mempengaruhi persepsi adalah :
1.      Belajar dan persepsi. Contoh: seseorang anak yang telah diajari oleh orang tuanya bahwa daging babi itu haram dan liur anjing itu mengandung najis, maka pada diri anak akan timbul persepsi bahwa anjing dan babi itu harus dijauhi.
2.      Motivasi dan pesepsi motivasi mempengaruhi terjadinya persepsi. Sebagai contoh: membicarakan tentang seks akan sangat menarik perhatian, tetapi bagi masyarakat yang sudah biasa tidak begitu menarik.
3.Persepsi dan kepribadian, kepribadian, nilai-nilai, dan juga termasuk usia akan mempengaruhi persepsi seseorang. Contoh: pada usia-usia tua lebih senang dengan musik-musik klasik sedang pada usisa muda lebih suka musik yang lain. 

2.    Komunikasi
a. Definisi Komunikasi
Komunikasi adalah proses penyampaian informasi dari satu orang kepada orang lain, bisa melalui telepon, surat, pembicaraan, ekspresi, kombinasi cara tersebut, dan lain-lain. Menurut O’Donnell dan Weihrich, komunikasi adalah penyampaian informasi dari pengirim kepada penerima dan informasi itu dapat dipahami oleh si penerima.[9] Komunikasi melibatkan minimal 2 orang yaitu pemberi dan penerima informasi. Informasi diberikan melalui saluran (Channel) dan media. Dalam proses penyampaian bisa saja terjadi kemungkinan saluran ini diganggu oleh “Noise”. Pesan dituangkan dalam ide. Ide transformasi menjadi pesan (Message). Pesan ini dikirimkan melalui Channel kepada penerima pesan itu dimasukkan sebagai ide, dan seterusnya, sampai pada penerima pesan dan akhirnya akan mempengaruhi tindakan action).[10]
b.       Fungsi Komunikasi dalam Organisasi
Menurut Sendjaja (1994) menyatakan bahwa fungsi komunikasi dalam organisasi adalah sebagai berikut:
1.      Fungsi informatif, organisasi dapat dipandang sebagai suatu sistem pemrosesan informasi.
2.      Fungsi regulatif, fungsi ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi.
3.      Fungsi persuasif, dalam mengatur suatu organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu membawa hasil sesuai dengan yang di harapkan.
4.      Fungsi integratif, setiap organisasi berusaha untuk menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat melaksanakan tugas dan pekerjaan dengan baik.
Tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa fungsi komunikasi merupakan sarana memadukan aktifitas-aktifitas yang terorganisai. Komunikai dapat dipandang sebagai sarana untuk menyalurkan masukan sosial ke dalam sistem sosial. Komunikasi juga merupakan sarana untuk memodifikasi perilaku, mempengaruhi perubahan, memproduktifkan informasi, dan sarana untuk mencapai tujuan. Bila kita berbicara tentang gereja, keluarga, atau suatu pasukan  pramuka atau tentang sebuah perusahaan maka menyampaikan informasi dari seseorang pada yang lain sangatlah penting.
c.       Tujuan Komunikasi
Dalam arti yang luas, tujuan komunikasi dalam suatu perusahaan adalah untuk mengadakan perubahan untuk mempengaruhi tindakan dan untuk mencapai kesejahteraan perusahaan. Misalnya di dunia usaha memerlukan informasi tentang harga, kompetisi, teknologi dan keuangan. Komunkasi penting  artinya karena komunikasi memerlukan komunikasi-komunikasi menejemen. Secara khusus, komunikasi di perlukan untuk:
1.      Menetapkan menetapkan dan menyebarluaskan tujuan perusahaan.
2.      Menyusun rencana untuk mencapai tujuan itu.
3.      Mengorganisasi sumber daya manusia dan sumber daya lainnya dengan cara yang paling efektif dan efisien.
4.      Menyeleksi, mengembangkan dan menilai anggota organisasi.
5.      Memimpin mengarahkan memotivasi.
6.      Mengendalikan prestasi.
d.       Bentuk – Bentuk Komunikasi dalam Organisasi
Manajer perlu memahami beberapa bentuk komunikasi yang umum ditemukan dalam organisasi dewasa ini. Bentuk-bentuk komunikasi ini mencakup komunikasi interpersonal, komunikasi komunikasi dalam jaringan dan tim, komunikasi organisasi, dan komunikasi elektronik.
1.    Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal secara umum memiliki dua bentuk, lisan dan tulisan. Seperti yang akan kita lihat, masing-masing bentuk komunikasi ini memiliki kelebihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan.
Komunikasi Lisan (oral communication) terjadi dalam percakapan tatap muka, diskusi kelompok, percakapan telpon, dan dalam situasi-situasi lain ketika ucapan digunakan untuk mengekspresikan makna. Komunikasi lisan sangat lazim karena beberapa alasan. Yang paling utama, komunikasi lisan memicu umpan balik dan pertukaran pemikiran secara langsung dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan atau persetujuan verbal, ekspresi muka, dan gerak tubuh. Komunikasi lisan juga mudah (yang perlu dilakukan pengirim hanyalah berbicara), dan dapat dilakukan dengan persiapan sedikit (meski persiapan matang dianjurkan dalam situasi-situasi tertentu). Pengirim tidak memerlukan pensil dan kertas, keybord, atau peralatan lain. Akan tetapi, komunikasi lisan juga memiliki kelemahan. Komunikasi ini mungkin tidak akurat jika pembicara memilih kata-kata yang salah untuk menyampaikan suatu makna atau melupakan detil-detil penting, jika proses komunikasi lisan mengalami gangguan, atau jika penerima melupakan sebagian dari pesan. Dalam diskusi dua arah, jarang tersedia waktu untuk berpikir atau untuk memperkenalkan banyak fakta baru, dan tidak ada catatan permanen mengenai apa yang telah diucapkan. Selain itu, meski sebagian besar manajer merasa nyaman berbicara kepada orang-orang secara individual atau di depan grup kecil, hanya sedikit manajer yang suka berbicara di depan audiensi yang lebih besar.[11]
Komunikasi Tulisan “Menulisnya” dalam surat, laporan, memo, catatan tulisan-tangan, atau e-mail bisa memecahkan banyak masalah yang melekat pada komunikasi lisan. Meski begitu, dan barangkali mengejutkan, komunikasi tulisan (written communication) tidak selazim yang anda bayangkan, dan bukan merupakan cara komunikasi yang dihargai oleh banyak manajer. Salah satu kelemahan terbesar dari bentuk-bentuk tradisional komunikasi tulisan adalah bahwa komunikasi tulisan mencegah umpan balik dan pertukaran pikiran secara langsung. Akan tetapi komunikasi lisan juga menawarkan sejumlah keunggulan. Komunikasi tulisan biasanya sangat akurat dan menyediakan catatan permanen mengenai komunikasi. Pengirim bisa meluangkan waktu untuk mengumpulkan dan mencerna informasi dan bisa merevisinya sebelum dikirimkan. Penerima memiliki banyak waktu untuk membacanya secara cermat dan bisa mengulangi pembacaan berkali-kali, jika diperlukan.
2.    Komunikasi dalam Jaringan dan Tim Kerja
Meskipun komunikasi antara anggota-anggota tim dalam organisasi jelas bersifat interpersonal, banyak riset telah berfokus secara spesifik pada bagaimana individu-individu dalam jaringan dan tim kerja berkomunikasi satu sama lain. Jaringan komunikasi (communication network) adalah pola komunikasi antar anggota dari sebuah grup atau tim.
3.    Komunikasi Organisasional
Bentuk-bentuk komunikasi lain di dalam organisasi adalah komunikasi yang mengalir antar dan antara unit-unit dan grup-grup organisasional. Masing-masing bentuk komunikasi ini bisa berupa lisan dan tulisan, tetapi tiap bentuk juga bisa dikembangkan menjadi pola komunikasi yang lebih luas di sepanjang organisasi. Bentuk komunikasi organisasional ada dua yaitu komunikasi vertikal dan komunikasi horizontal.
a.       Komunikasi Vertikal (vertical communication) adalah komunikasi yang mengalir ke atas dan ke bawah dalam hierarki organisasi, biasanya melalui saluran-saluran pelaporan formal yaitu komunikasi yang terjadi antar manajer dengan atasan dan bawahan mereka. Komunikasi vertikal bisa melibatkan dua orang saja, atau bisa mengalir melalui beberapa level organisasi yang berbeda.
b.      Komunikasi Horizontal (horizontal communicatio) adalah komunikasi yang melibatkan kolega dan rekan kerja dari level organisasi yang sama. Komunikasi horizontal cenderung lebih sering terjadiantar manajer dibanding antar non-manajer. Sebagai contoh, seorang manajer operasi mungkin mengkomunikasikan kepada manajer pemasaran bahwa level persediaan telah menipis dan bahwa proyeksi tanggal pengiriman harus diperpanjang 2 minggu.
4.    Komunikasi Elektronik
Terakhir, komunikasi elektronik akhir-akhir ini menjadi semakin penting di dalam organisasi. Baik sistem informasi formal maupun teknologi elektronik pribadi telah mengubah cara manajer berkomunikasi satu sama lain.
5.   Komunikasi Informal dalam Organisasi  
Bentuk-bentuk komunikasi organisasional yang telah di bahas sebelumnya semuanya mewakili mekanisme komunikasi formal dan terencana. Namun, dalam banyak kasus sebagian besar komunikasi yang terjadi dalam organisasi meloncati saluran-saluran formal dan mengikuti sejumlah metode informal. Bentuk bentuk komunikasi informal yang umum adalah rumor, management by wandering around dan komunikasi non verbal.
Pesan yang disampaikan oleh pengirim kepada penerima dapat dikemas secara verbal dengan kata-kata atau nonverbal tanpa kata-kata. Komunikasi yang pesannya dikemas secara verbal disebut komunikasi verbal, sedangkan komunikasi yang pesannya dikemas secara nonverbal disebut komunikasi nonverbal. Jadi, komunikasi verbal adalah penyampaian makna dengan menggunakan kata-kata. Sedang komunikasi nonverbal tidak menggunakan kata-kata. Dalam komunikasi sehari-hari 35% berupa komunikasi verbal dan 65% berupa komunikasi nonverbal.[12]

A.     Komunikasi Verbal
Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata, entah lisan maupun tulisan. Komunikasi ini paling banyak dipakai dalam hubungan antar manusia. Melalui kata-kata, mereka mengungkapkan perasaan, emosi, pemikiran, gagasan, atau maksud mereka, menyampaikan fakta, data, dan informasi serta menjelaskannya, saling bertukar perasaan dan pemikiran, saling berdebat, dan bertengkar. Dalam komunikasi verbal itu bahasa memegang peranan penting. [13]
Ada beberapa unsur penting dalam komunikasi verbal, yaitu:
1.      Bahasa
Pada dasarnya bahasa adalah suatu system lambang yang memungkinkan orang berbagi makna. Dalam komunikasi verbal, lambang bahasa yang dipergunakan adalah bahasa verbal entah lisan, tertulis pada kertas, ataupun elektronik. Bahasa suatu bangsa atau suku berasal dari interaksi dan hubungan antara warganya satu sama lain. [14]
Bahasa memiliki banyak fungsi, namun sekurang-kurangnya ada tiga fungsi yang erat hubungannya dalam menciptakan komunikasi yang efektif. Ketiga fungsi itu adalah:
a.       Untuk mempelajari tentang dunia sekeliling kita;
b.      Untuk membina hubungan yang baik di antara sesama manusia
c.       Untuk menciptaakan ikatan-ikatan dalam kehidupan manusia.
Bagaimana mempelajari bahasa? Menurut para ahli, ada tiga teori yang membicarakan sehingga orang bisa memiliki kemampuan berbahasa.
Teori pertama disebut Operant Conditioning yang dikembangkan oleh seorang ahli psikologi behavioristik yang bernama B. F. Skinner (1957). Teori ini menekankan unsur rangsangan (stimulus) dan tanggapan (response) atau lebih dikenal dengan istilah S-R. teori ini menyatakan bahwa jika satu organism dirangsang oleh stimuli dari luar, orang cenderung akan member reaksi. Anak-anak mengetahui bahasa karena ia diajar oleh orang tuanya atau meniru apa yang diucapkan oleh orang lain.
Teori kedua ialah teori kognitif yang dikembangkan oleh Noam Chomsky. Menurutnya kemampuan berbahasa yang ada pada manusia adalah pembawaan biologis yang dibawa dari lahir.
Teori ketiga disebut Mediating theory atau teori penengah. Dikembangkan oleh Charles Osgood. Teori ini menekankan bahwa manusia dalam mengembangkan kemampuannya berbahasa, tidak saja bereaksi terhadap rangsangan (stimuli) yang diterima dari luar, tetapi juga dipengaruhi oleh proses internal yang terjadi dalam dirinya.[15]

2.      Kata
Kata merupakan unti lambang terkecil dalam bahasa. Kata adalah lambing yang melambangkan atau mewakili sesuatu hal, entah orang, barang, kejadian, atau keadaan. Jadi, kata itu bukan orang, barang, kejadian, atau keadaan sendiri. Makna kata tidak ada pada pikiran orang. Tidak ada hubungan langsung antara kata dan hal. Yang berhubungan langsung hanyalah kata dan pikiran orang.[16]

B.     Komunikasi Nonverbal
Komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang pesannya dikemas dalam bentuk nonverbal, tanpa kata-kata. Dalam hidup nyata komunikasi nonverbal jauh lebih banyak dipakai daripada komuniasi verbal. Dalam berkomunikasi hampir secara otomatis komunikasi nonverbal ikut terpakai. Karena itu, komunikasi nonverbal bersifat tetap dan selalu ada. Komunikasi nonverbal lebih jujur mengungkapkan hal yang mau diungkapkan karena spontan.[17]
Nonverbal communication is all aspects of communication other than words themselves. It includes how we utter words (inflection, volume), features, of environments that affect interaction (temperature, lighting), and objects that influence personal images and interaction patterns (dress, jewelry, furniture).[18] (Komunikasi nonverbal adalah semua aspek komunikasi selain kata-kata sendiri. Ini mencakup bagaimana kita mengucapkan kata-kata (infleksi, volume), fitur, lingkungan yang mempengaruhi interaksi (suhu, pencahayaan), dan benda-benda yang mempengaruhi citra pribadi dan pola interaksi (pakaian, perhiasan, mebel).
Komunikasi non verbal dapat berupa bahasa tubuh, tanda (sign), tindakan/perbuatan (action) atau objek (object).
Bahasa Tubuh. Bahasa tubuh yang berupa raut wajah, gerak kepala, gerak tangan,, gerak-gerik tubuh mengungkapkan berbagai perasaan, isi hati, isi pikiran, kehendak, dan sikap orang.
Tanda. Dalam komunikasi nonverbal tanda mengganti kata-kata, misalnya, bendera, rambu-rambu lalu lintas darat, laut, udara; aba-aba dalam olahraga.
Tindakan/perbuatan. Ini sebenarnya tidak khusus dimaksudkan mengganti kata-kata, tetapi dapat menghantarkan makna. Misalnya, menggebrak meja dalam pembicaraan, menutup pintu keras-keras pada waktu meninggalkan rumah, menekan gas mobil kuat-kuat. Semua itu mengandung makna tersendiri.
Objek. Objek sebagai bentuk komunikasi nonverbal juga tidak mengganti kata, tetapi dapat menyampaikan arti tertentu. Misalnya, pakaian, aksesori dandan, rumah, perabot rumah, harta benda, kendaraan, hadiah.[19]
Hal menarik dari komunikasi nonverbal ialah studi Albert Mahrabian (1971) yang menyimpulkan bahwa tingkat kepercayaan dari pembicaraan orang hanya 7% berasal dari bahasa verbal, 38% dari vocal suara, dan 55% dari ekspresi muka. Ia juga menambahkan bahwa jika terjadi pertentangan antara apa yang diucapkan seseorang dengan perbuatannya, orang lain cenderung mempercayai hal-hal yang bersifat nonverbal.
Oleh sebab itu, Mark knapp (1978) menyebut bahwa penggunaan kode nonverbal dalam berkomunikasi memiliki fungsi untuk:
a.       Meyakinkan apa yang diucapkannya (repetition)
b.      Menunjukkan perasaan dan emosi yang tidak bisa diutarakan dengan kata-kata (substitution)
c.       Menunjukkan jati diri sehingga orang lain bisa mengenalnya (identity)
d.      Menambah atau melengkapi ucapan-ucapan yang dirasakan belum sempurna.

e.       Hambatan komunikasi organisasi
Komunikasi tidak selamanya berjalan dengan lancar. Banyak sekali terdapat kesalahan -kesalahan penyampaian, penerimaan, bahkan kesalahan ketika harus    mengartikan   pesan    atau informasi yang di terima. Menurut  effendi dalam berorganisasi tidak luput dari kesalahan-kesalahan yang dapat menghambat jalannya proses komunikasi, di antaranya adalah:  [20]
a)      Hambatan sosio antro psikologis,
1.      Hambatan sosiologis : merupakan hambatan yang terjadi karena adanya perbedaan golongan dan lapisan yang menyebabkan adanya perbedaan status sosial, idiologi, tingkat pendidikan, tingkat kekayaan, dan sebagainya.
2.      Hambatan antropologis: hambatan komunikasi yang terjadi akibat adanya perbedaan postur, warna kulit, dan kebudayaan, gaya hidup, norma, kebiasaan, dan bahasa.
3.      Hambatan sikologis: komunikasi yang terhambat karena komunikan sedang sedih, bingung, marah, merasa kecewa, merasa iri hati dan adanya prasangka pada komunikator.
b)      Hambatan semantik
c)      Hambatan ini di timbulkan oleh kominikator. Kadang terjadi karena salah ucap dalam menyalurkan pikiran dan perasaan, sehingga timbul salah pengertian (misunderstanding) atau salah tafsir (misinterpretion) yang akhirnya menimbulkan salah komunikasi (miscomunication).
d)     Hambatan mekanis
e)      Hambatan yang terjadi pada media yang di gunakan untuk berkomunikasi. Contoh: suara telfon yang tidak jelas, ketikan huruf yang buram pada surat, suara yang hilang, dan muncul pada saluran radio.
f. Kabar Burung
1.      Ungkapan “kabar burung” pertama kali saya baca dalam cerita silat terjemahan OKT (Oei Kim Tiang). Waktu itu, “kabar burung” belum menjadi kosakata bahasa Indonesia. Baru setelah banyak orang membaca cerita silat, ungkapan “kabar burung” menjadi populer sehingga sekarang menjadi kosakata bahasa Indonesia. Artinya, tidak ada sangkut pautnya dengan burung yang suka terbang. “Burung” di situ saya kira dari bahasa Sunda yang artinya “gila”, “tidak benar”, atau “gagal”. OKT yang sejak kecil tinggal di Tangerang dalam tulisannya banyak memasukkan kata-kata dari bahasa Sunda yang rupanya sudah menjadi perbendaharaan bahasa sehari-hari orang Tangerang.
2.      Kata-kata “buru-buru” (cepat-cepat), “jangkung” (tinggi untuk tubuh orang), “tanjakan” (jalan mendaki), “kabur” (melarikan diri), “lumrah” (umum), “berendeng” (berjalan berdampingan), “tapak” (bekas), dan banyak lagi sering digunakan OKT dalam karangannya. Kata-kata itu berasal dari bahasa Sunda yang sebagian biasa digunakan dalam bahasa Jakarta. Sekarang banyak kata tersebut yang menjadi bahasa Indonesia karena kebiasaan OKT banyak memengaruhi penulis lain. Di Tangerang, komunitas terbesarnya adalah orang Sunda sehingga saling pengaruh atau saling pinjam kata dalam percakapan sehari-hari antara orang-orang yang mempergunakan bahasa Sunda dan orang-orang yang menggunakan bahasa Melayu Jakarta dengan mudahnya terjadi.
3.      Jadi “kabar burung” artinya kabar yang tidak benar, kabar gila. Dalam bahasa Sunda sendiri tidak ada ungkapan “beja burung” (beja=kabar). Jadi, kata Sunda yang diambil hanya “burung” saja. Dalam Kamus Dialek Jakarta yang disusun oleh Abdul Chaer (1976), kata “burung” dalam arti gila tidak jadi atau gagal, tidak tercantum. Artinya, kata “burung” dalam arti demikian tidak terdapat dalam bahasa dialek Jakarta. OKT agaknya langsung meminjamnya dari bahasa Sunda. Akan tetapi, sekarang ungkapan “kabar burung” sudah menjadi ungkapan sehari-hari dalam bahasa Indonesia.[21]

C.       Efektivitas Komunikasi dalam Proses Pendidikan
         
           Dalam prosesnya bahwa komunikasi merupakan suatu proses social untuk mentranmisikan atau menyampaikan perasaan atau informasi baik yang berupa ide-ide atau gagasan-gagasan      dalam rangka    mempengaruhi orang lian. Agar komunikasi berjalan efektif, komunikator   hendaknya mampu    mengatur aliran pemberitaan ke tiga arah, yakni ke   bawah, ke atas, ke     samping atau mendatar. Bagi setiap orang atau kelompok     dalam    organisasi hendaknya mungkin untuk berkomunikasi dengan setiap orang atau    kelompok   lain, dan  untuk menerima respon sikap, itu diminta oleh komuniktor.
Menurut Marsetio Donosepoetro mengemukakan bahwa dalam proses komunikasi ada beberapa ketentuan, antara lain :[22]
       1. Karena komunikasi mempunyai suatu maksud, maka suatu messege          
    atau stimulus selalu ditujukan kepada sekumpulan orang tertentu. Ini  
   disebut penerima yang terntetu.
2. Komunikator berkeinginan menimbulkan suatu respon kepada penerima
    yang sesuai dengan maksud yang dibawakan oleh messege atau
    stimulus tertentu.
3. Suatu komunikasi dinyatakan berhasil jika respon yang timbul pada      
    penerima, sesuai dengan maksud komunikasi.
            Dalam melaksanakan suatu program pendidikan aktivitas menyebarkan,  menyampaikan   gagasan - gagasan dan maksud-maksud ke seluruh   struktur   organisasi   sangat   penting.   Proses komunikasi dalam menyampaikan  suatu tujuan lebih dari pada sekedar menyalurkan pikiran-pikiran atau gagasan-gagasan dan maksud-maksud secara lisan atau tertulis.
Terkait komunikasi dalam pen­didikan, ada sejumlah orang ya­ng berperan yakni guru dan siswa. Guru merupakan orang yang dianggap mampu mentransfer materi ajar, gagasan, wawasan lainnya kepada siswa haruslah dipandang sebagai sebuah proses belajar mengajar. Tetapi guru juga tidak boleh anti kritik. Justru dengan kritik dan saran itu akan menambah wawa­san lain dan timbal balik dalam belajar akan semakin hidup dan menyenangkan. Jangan sampai guru memiliki sifat otoriter atas semua kebijakan di sekolah saat mengajar. Jangan jadikan siswa sebagai objek. Justru sebaliknya, siswa harus dijadikan subjek dalam sebuah pembelajaran. 
Di sinilah pentingnya seorang guru memiliki komunikasi yang lancar, baik dan mampu mengge­rakkan siswa untuk melakukan interaksi. Membuat suasana be­lajar menyenangkan, nyaman, dan tak tertekan. Guru bukan hanya sebagai orang yang me­ngajar, tetapi lebih dari itu yakni sebagai orang tua, rekan, maupun sahabat. Karena ada siswa yang tidak mau terbuka kepada orang tua, tetapi kepada guru bisa terbuka terkait dengan persoalan atau masalah yang sedang di­hadapinya, sehingga rasa kasih sayang dari seorang guru kepada siswa akan menjadikan motivasi tersendiri. Kemudian guru yang berperan sebagai teman harus mampu membuat siswa bergaul dengan leluasa dalam artian ada batasnya. Jelas ini akan me­nambah percaya diri siswa dalam belajar. Karena pada hakikatnya tujuan komunikasi itu adalah bagaimana bisa dan mampu merubah suatu sikap (attitude), pendapat (opinion), perilaku (behavior), ataupun perubahan secara sosial (social change). 
Perubahan sikap seorang komunikan (siswa) setelah materi dari guru (komunikator) ter­gambar bagaimana sikap siswa itu dalam keseharian baik di sekolah maupun lingkungannya. Tentunya perubahan itu ke arah yang lebih baik, bukan sebaliknya. Kemudian perubahan pendapat siswa akan terjadi bila gagasan yang diberikan guru bersifat global. Jelas siswa akan me­nangkap materi ajar itu berbeda-beda, siswa akan mampu menafsirkan apa yang diajarkan oleh guru tadi yang kemudian bisa mengeluarkan penadapat atau beropini. Begitu juga dengan perubahan prilaku dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya apakah prilaku siswa sudah sesuai apa yang dicontohkan di sekolah, misalnya cuci tangan sebelum makan, berdoa sebelum tidur dan lain-lain. Yang tak kalah pentingnya adalah perubahan sosial, karena persoalan ini lebih kepada hubungan interpersonal, menjadikan hubungan yang lebih baik.
D. Hambatan Dalam Proses Komunikasi
Melakukan komunikasi yang efektif tidaklah mudah. Beberapa ahli menyatakan bahwa tidak ada proses komunikasi yang sebenar-benarnya efektif, karena selalu terdapat hambatan. Hambatan komunikasi pada umumnya mempunyai dua sifat berikut ini :
1.    Hambatan yang bersifat objektif, yaitu hambatan terhadap proses komunikasi yang tidak disengaja dibuat oleh pihak lain tetapi lebih disebabkan oleh keadaan yang tidak menguntungkan. Misalnya karena cuaca, kebisingan kalau komunikasi di tempat ramai, waktu yang tidak tepat, penggunaan media yang keliru, ataupun karena tidak kesamaan atau tidak “in tune” dari frame of reference dan field of reference antara komunikator dengan komunikan.
2.    Hambatan yang bersifat subjektif, yaitu hambatan yang sengaja di buat orang lain sebagai upaya penentangan, misalnya pertentangan kepentingan, prasangka, tamak, iri hati, apatisme, dan mencemoohkan komunikasi.
Sedangkan kalau diklasifikasikan hambatan komunikasi meliputi :
1.        Gangguan(Noises),terdiridari :
Gangguan mekanik (mechanical/channel noise), yaitu gangguan disebabkan saluran komunikasi atau kegaduhan yang bersifat fisik.
2.        Gangguan semantik (semantic noise), yaitu bersangkutan dengan pesan komunikasi yang pengertiannya menjadi rusak. Lebih banyak kekacauan penggunaan bahasa, pengertian suatu istilah atau konsep terdapat perbedaan antara komunikator dengan komunikan.
3.        Gangguan personal (personnel noise), yaitu bersangkutan dengan kondisi fisik komunikan atau komunikator yang sedang kelelalahan, rasa lapar, atau sedang ngantuk. Juga kondisi psikologis, misalnya tidak ada minat, bosan, dan sebagainya.
Kepentingan (Interest) Interest akan membuat seseorang selektif dalam menanggapi atau menghayati suatu pesan. Orang akan memperhatikan perangsang yang ada kaitannya dengan kepentingannya. Kepentingan bukan hanya mempengaruhi perhatian kita tetapi juga menentukan daya tanggap, perasaan, pikiran, dan tingkah laku yang akan merupakan sikap reaktif terhadap segala perangsang yang tidak bersesuaian atau bertentangan dengan suatu kepentingan.
E. Kesimpulan
                        pada hakikatnya persepsi adalah merupakan proses penilaian seseorang terhadap obyek tertentu. Karena persepsi merupakan aktivitas mengindera, mengintegrasikan dan memberikan penilaian pada obyek-obyek fisik maupun obyek sosial, dan penginderaan tersebut tergantung pada stimulus fisik dan stimulus sosial yang ada di lingkungannya. Di dalam proses persepsi individu dituntut untuk memberikan penilaian terhadap suatu obyek yang dapat bersifat positif/negatif, senang atau tidak senang dan sebagainya. Dengan adanya persepsi maka akan terbentuk sikap, yaitu suatu kecenderungan yang stabil untuk berlaku atau bertindak secara tertentu di dalam situasi yang tertentu pula.
Komunikasi ialah proses menyalurkan informasi, ide, penjelasan, perasaan, pertanyaan dari orang ke orang lain atau dari kelompok ke kelompok. Ia adalah proses interaksi antara orang-orang atau kelompok-kelompok yang ditujukan untuk mempengaruhi sikap dan perilaku orang-orang dan kelompok-kelompok di dalam suatu Komunikasi merupakan suatu yang sangat pokok yang dalam prosesnya ada tujuan komunikasi, yaitu :
 1. Menentapkan dan menyebarkan maksud dari pada suatu usaha.
2. Mengembangkan rencana-rencana untuk mencapai tujuan.
3. Mengorganisasikan sumber-sumber daya manusia dan sumber daya lainnya         
4. Memilih, mengembangkan, menilai anggota organisasi.
5. Memimpin, mengarahkan, memotivasi dan menciptakan suatu iklim kerja     di mana setiap orang mau memberikan kontribusi.
Proses komunikasi akan efektif apabila komunikator melakukan perananya, sehingga terjadinya suatu proses komunikasi yang baik dan sesuai dengan harapan, di mana gagasan-gagasan atau ide dibahas dalam suatu musyawarah antara komunikator dengan komunikan, dan terjadi pemahaman tentang informasi atau segala sesuatu hal menjadi pokok dari pembahasan untuk mengarah pada kesepakatan dan kesatuan dalam pendapat. Selanjutnya bahwa dalam proses komunikasi terbagai dalam dua macam, yang meliputi komunikasi aktif dan komunikasi pasif.








































DAFTAR PUSTAKA


Agus M. Hardjana,2003 , Komunikasi Intrapersonal & Komunikasi Interpersonal, Yogyakarta: Kanisius.

Bertha, Nyoman, Filsafat dan Teori Pendidikan, (Bandung : FIP IKIP Bandung, 1983).

Donosepoetro,Marsetio, 1982 Manajemen dalam Pengertian dan Pendidikan Berpikir, Surabaya .

Fisher, Aubrey dan Kathrine L. Adams. Interpersonal Communication: Pragmatic

Fattah,Nanang, Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung : Rosdakarya, 1996).

Gibson, James I. (1990). Organisasi Perilaku, Struktur, Proses. Jakarta : Erlangga.

Griffin, Ricky W. (2004). Manajemen Jilid 2. Jakarta : Erlangga.

Harahap, Sofyan Syafri. (1996). Manajemen Kontemporer. Jakarta : PT.
 Raja Grafindo Persada.

http://kampuskomunikasi.blogspot.com/2008/06/hambatan-dalam-proses-komunikasi.html

Julia T. Wood, 2009 Communication in Our Lives, (USA:  University of North Carolina at Capital Hill.

Kadarman, A. M. dan Jusuf Udaya. (1996). Pengantar Ilmu Manajemen. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Muchlas, Makmuri, Perilaku Organisasi, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2008.

Miftah, Thoha. 2008. Perilaku Organisasi; konsep dasar dan aplikasinya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Purwanto, M. Ngalim, Administrasi Pendidikan, (Jakarta : Mutiara Sumber-Sumber Benih Kecerdasan, 1981).

Prof. Dr. H. Hafied Cangara, 2007 Pengantar Ilmu Komunikasi,Jakarta: Raja Grafindo Perkasah.
Sulaeman, Dadang dan Sunaryo, Psikologi Pendidikan, (Bandung : IKIP Bandung, 1983).

Suherman, Maman, Pengembangan Sarana Belajar, (Jakarta : Karunia, 1986).

Sutisna,Oteng, Administrasi Pendidikan Dasar Teoritis untuk Praktek Profesional, (Bandung : Angkasa, 1983)

Sagala,Syaiful, Administrasi Pendidikan Konteporer, (Bandung : Alfabeta, 2005).

R. Wayne Pace dan Don F. Faules. 2006. Komunikasi Organisasi; strategi meningkatkan kinerja perusahaan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sutarto. 2006. Dasar-Dasar Organisasi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Sendjaja, S Djuarsa.1994, Teori Komunikasi. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka
Ukas, Maman, Manajemen Konsep, Prinsip, dan Aplikasi, (Bandung : Ossa Promo, 1999).




4 Hubungan persepsi dengan sensasi sudah jelas, sensasi adalah bagian dari persepi. Persepsi, seperti juga sensasi, sama-sama ditentukan oleh faktor personal dan faktor situasional. Lihat: Jalaludin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), hlm. 51.
5 Ibid.
6Makmuri Muchlas, loc.cit.
7John R. Wenburg dan William W. Wilmot, The Personal Communication Process. (New York: John Wiley & Sons, 1973), hlm. 113.
[9] Kadarman, A. M. dan Jusuf Udaya. Pengantar Ilmu Manajemen. (Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama,1996 ),hlm 121.

[10] Harahap, Sofyan Syafri. Manajemen Kontemporer. (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada,1966),hlm 220.

[11] Griffin, Ricky W. (2004). Manajemen Jilid 2. (Jakarta : Erlangga.2004),hlm. 107 -108.

[12] Agus M. Hardjana, Komunikasi Intrapersonal & Komunikasi Interpersonal, (Yogyakarta: Kanisius, 2003), h. 22

[13] Ibid., h. 22
[14] Ibid., h. 23
[15] Prof. Dr. H. Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta: Raja Grafindo Perkasa, 2007), h. 99-102

[16] Agus M. Hardjana, Komunikasi Intrapersonal & Komunikasi Interpersonal, (Yogyakarta: Kanisius, 2003), h. 24

[17] Ibid,. h. 26

[18] Julia T. Wood, Communication in Our Lives, (USA:  University of North Carolina at Capital Hill,  2009), h. 131

[19] Op. Cit., h. 27
[22] Donosepoetro,Marsetio, Manajemen dalam Pengertian dan Pendidikan Berpikir, (Surabaya : 1982).

3 komentar:

  1. maaf pak supiansyah, jika berkenan ,sy mohon dikirimkan file word aslinya ke email sy. ali.umar.21@gmail.com , terima kasih

    BalasHapus
  2. Selamat siang Pak, saya sangat membutuhkan materi bapak untuk presentasi perilaku keorganisasian. boleh saya dapat file word nya pak? terima kasih sebelumnya

    BalasHapus